Gratis Baca Cerita Sex 2016, Cerita Seks Bergambar Hot Terbaru, Cerita Mesum Selingkuh, Cerita Ngentot Tante, Cerita Dewasa Seru, Cerita Tante Girang, Cewek Sange, Foto ABG, Foto Bokep.

Cerita Seks Pribadi Setelah Bayi Kita Lahir Lalu Kita ML Lagi

Cerita Sex 2016, Cerita Bokep ABG, Cerita Mesum, Cerita Ngentot Tante Girang, Foto Cewek IGO Sange, Foto Porno ABG, Foto Bokep, Foto Bugil, Foto Memek.

Cerita Mesum Kali ini bercerita kisah tentang kehidupanku yang dipenuhi kepuasan bercinta hingga lahirlah bayiku, penasaran dengan kisah selanjutnya langsung lihat aja ya di "Cerita Seks Pribadi Setelah Bayi Kita Lahir Lalu Kita ML Lagi", Lihat juga "Cerita Seks Diperkosa Mandor Pabrik Garmen Di Gudang Kosong", selamat menikmati.

Cerita Sek Hot Kita Ngentot Lagi

Cerita Seks Pribadi Setelah Bayi Kita Lahir Lalu Kita ML Lagi
Cerita Mesum Pribadi Setelah Bayi Kita Lahir Lalu Kita ML Lagi

Cerita Sex - Aku menghirup nafas dalam-dalam. Aroma ini, kenapa sangat nyaman? Mataku masih terpejam, tapi kesadaranku mulai kembali. Ah… Kubenamkan wajahku ke dalam bantal Herman dan menghirup aromanya. Tunggu dulu, kemana dia? Aku mengerjap pelan dan melihat tempat kosong di sampingku. Aku baru ingat kalau selama ini Herman tidur di kamar sebelah. Tapi… Kenapa sekarang aku malah ingin menghirup baunya? Dengan wajah kusut aku turun dari tempat tidur. Berjalan menuju kamar sebelah. Dia masih tidur pulas saat aku masuk ke dalam.

Cerita Dewasa - Ah, dia masih saja tetap seperti anak-anak saat tidur. Aku naik ke atas ranjang, masuk ke dalam selimut lalu memeluknya. Kubenamkan wajahku ke dalam lehernya lalu kuhirup dalam-dalam. Kurasakan ia bergerak dalam tidurnya.
“Uugh… Cik,” gumamnya tidak jelas setengah sadar.
Aku tidak menjawab, hanya semakin banyak menghirup aromanya. “Ciki, kau ada di sini?” tanyanya terkejut saat sudah sadar sepenuhnya.

Aku tersenyum padanya lalu menyeruakkan wajahku lagi ke lehernya. “Baumu enak,” bisikku pelan. Menghirup lagi aromanya, tapi Herman menjauhkan wajahku lalu duduk, menatapku dalam.

“Kau sudah tidak mual lagi?”
Aku ikut duduk sambil menggeleng pelan.
“Tidak ingin muntah?”

Aku menggeleng lagi.

“Jadi aku bisa mendekatimu?”

Aku mengangguk sambil tersenyum.

Greeep… Aku sedikit terkejut saat ia merengkuh tubuhku kuat.

“Aku merindukanmu,” bisiknya lirih.

Aku membalas pelukannya.

“Aku juga…” bisikku.
Dia mengecup kening, pipi, hidung dan bibirku. “Akhirnyaaa…” serunya sambil tersenyum lebar.

Aku tertawa kecil melihatnya. Seulas kenangan kami dari awal bertemu hingga saat ini seolah berputar di memori otakku. Betapa ajaibnya takdir.

“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya.

Aku memejamkan mataku sejenak.

“Seperti yang kau pikirkan,” bisikku sambil tertawa.

Cuup… Ia mengecup bibirku.

“Kamu cantik,” bisiknya lalu mengecupi bibirku, merubahnya jadi lumatan-lumatan manis.

Bruuk… Aku terjatuh ke ranjang, tapi ia tidak melepaskan ciumannya. Kurengkuh lehernya erat-erat, meremas rambut halusnya.

“Mmmmm… kau harus ke kantor,” bisikku di sela ciumannya.

Dia menghentikan ciumannya. Menempelkan keningnya di keningku sambil memejamkan mata. “Aku tidak ingin pergi hari ini.”

“Kenapa?”
“Aku ingin bersamamu seharian,” jawabnya. “Hampir dua minggu, Cik, aku sangat merindukanmu…”

Aku tersenyum. “Apa aku harus berbohong pada sekretarismu?”
“Tidak perlu, biarkan saja…” balasnya lalu mulai melumat bibirku lagi lebih dalam.

“Mmhh…” suara decakan mulai terdengar.

Herman menahan tubuhnya dengan tangan agar tidak menindih perutku. Dia sangat melindungi bayinya. Dan aku tentu saja.

Dibukanya bibirku dengan lembut, lidahnya terjulur menjilat-jilat lidahku. Mencampur air liur kami. Ah, hampir dua minggu aku tidak merasakan sentuhannya. Aku tahu betapa tersiksanya dia. Kuharap bayi kami baik-baik saja setelah ini, tidak menginginkan sesuatu yang aneh.

Suara kecapan semakin keras. Nafasku mulai terputus-putus. Bibirnya terasa sangat manis dan lembut, membuatku ingin terus mengulumnya. Kuhisap lidahnya di mulutku dan ia menjerit tertahan. Sesekali ia memberi jeda untuk kami mengambil nafas.

“Mmhh…” aku melenguh pelan.

Bibirnya mulai bergerak turun ke bawah. membuatku mendongak, memudahkannya untuk menyusurinya. Detak jantungku mulai tidak beraturan. Nafasku mulai tersengal. Bibir Herman terus merambat ke sisi lain leherku dan semakin naik ke atas, ia menggigit lembut telingaku. Terpaan nafasnya yang hangat, nyaris membuatku hilang kendali.

“Nghh…” Darahku berdesir cepat.

Aku menggeliat pelan dalam dekapannya. Ia masih terus menyusuri leher bagian belakang telinga kananku.

“Ngghhh…” desahnya lembut disela-sela bunyi decakan dari kecupannya. Ia menarikku pelan untuk duduk. Dilepasnya kaos longgar yang kupakai, kemudian tangannya bergerak ke belakang bersama dengan bibirnya yang mengecupi setiap inci bahuku.

“Ngghh… hhh…” desahku pelan.

Kukecup bahunya dan berhenti di satu titik untuk membuat hisapan lembut. Aroma keringatnya tercium jelas. Sisa dari masturbasi yang dilakukannya semalam bersamaku di telepon.

“Enghhh…” erangnya tertahan.

Tangannya bergerak membuka kait braku, kemudian membuang benda itu entah kemana. Dan dengan cepat ia melepaskan kaosnya sendiri kemudian mendorongku untuk kembali tidur.

Ia mencium keningku lembut. Mataku, pipiku, hidungku kemudian bibirku lagi. Ditekannya lembut bibirku, membasahinya. Ia melumat lembut sambil menekannya semakin dalam, membuatku semakin ingin membalasnya.

“Mmhh…” desahan-desahan kami terdengar kembali bersama decakan-decakan bibir kami yang memenuhi ruang kamar itu.
“Nggh… Her!” aku merasakan jari telunjuknya menyusuri kedua buah dadaku. Menekan-nekan putingnya.

Kemudian diremasnya payudara sebelah kiriku lembut. “Aaahhh…” aku menggeliat dalam pelan.

Bibir Herman turun ke bawah mencium daguku… leherku… ia mengecupi belahan

dadaku sebelum akhirnya ia menjilati puting dada kananku. Dikulumnya puting payudara itu dan dimainkannya dengan lidah di dalam mulutnya yang basah sementara ia masih meremas payudara kiriku sambil memilin-milin putingnya. Memutarnya sambil menekan-nekannya.

“Ssshhh…” perutku terasa diaduk-aduk semakin cepat.

Bagian bawah pada tubuhku berkedut-kedut dengan cepat. Kakiku tidak bisa diam dan terus bergerak menggesek kakinya.

Herman menyedot putingku kuat-kuat, membuat buah dadaku itu mengeras.

“Tidak ada susu,” bisiknya.
“Dasar bodoh!!” balasku.

Ia tersenyum kemudian meremas dadaku yang sebelah, melakukan hal yang sama. Aku meremas rambutnya yang halus. Tiba-tiba ia melepaskan hisapannya kemudian bangun dan melepas sisa baju yang menempel di tubuhku dan di tubuhnya sendiri.

Ia kini berbaring di sampingku, telanjang. Dan menarikku agar naik ke atasnya. Aku duduk di pahanya lalu merunduk, membuat kontolnya yang mulai tegang, menusuk perutku.

“Nghhh…” ia melenguh pelan.

Kukecupi kulit lehernya. Aku merasakan sensasi aneh saat payudaraku menempel pada kulit dadanya yang bidang. Terasa panas. Aku mengecup pipinya yang mulai tembam itu berkali-kali. Kemudian turun lagi mengecupi lehernya. Sengaja kugeliatkan badanku pelan, membuat kontolnya yang menusuk perutku tergesek pelan bersama dengan dadaku yang menggesek dadanya.

“Aaghh…” ia mendesah keras saat aku mengulum putingnya.

Perlahan, kugerakkan tanganku ke bawah sana, mengelus batang kemaluannya.

“Aaagghh…” ia mendesah tertahan sambil meremas rambutku.

Kusedot kuat putingnya bersama dengan remasanku yang semakin kuat di kontolnya.

“Arrrgh…hhhh…” ia mengerang kuat, hingga tubuhnya melengkung ke atas.

Lalu kurasakan tanganku basah. Sepertinya kontol Herman mulai mengeluarkan lendir bening.

“Uughhh… Ciki…” aku suka mendengarnya menyebut namaku.

Aku bergerak lagi ke bawah menciumi perutnya hingga ujung kontolnya merambat ke atas, menggesek belahan dadaku.

“Nghhh…” aku mendesah menikmati sensasi batang kontolnya yang menggesek-gesek kedua dadaku. Terasa dingin oleh cairan precumnya.
“Aahhh… shhh…” Ia semakin melebarkan kakinya, dan aku terus mengecupi perutnya semakin ke bawah.
“Uuughhh…” Tubuh Herman menegang saat aku mengecupi biji pelirnya. “Cikii oohh…”

Perlahan, kugesekkan kontolnya pada ujung daguku. Basah, daguku terasa basah. Ujung kontolnya berwarna merah dengan testis berkerut. Kuhembuskan nafasku sambil meniup benda itu. Herman berdesis pelan masih dengan memejamkan matanya. Wajahnya terlihat tersiksa dengan mulut terbuka. Aku selalu menyukai ekspresinya saat menahan nikmat. Kuremas batang kontolnya pelan.

“Ssshhh… aaaahhh…” Herman mendesah.

Kuelus-elus juga biji pelirnya yang mengerut dengan jari telunjukku.

“Nghhh… ooohhh…” dia mengerang tertahan.

Kemudian, kukecup lembut beberapa kali hingga membuat tubuhnya mengejang. “Mmmhh…” kecupanku merambat ke bawah. Begitu pelan. Merasakan urat-urat kontol Herman yang bertonjolan hingga sampai ke pangkalnya.

“Sshhh… lebih cepat, sayang… ughh…” racau Herman. “Ooohh… sangat nikmat… ssshhh…”

Terus kusedot-sedot dan kuhisap-hisap. Kujilati dengan lidah basahku.

“Aaahhh… Cikii… engghhh…” Lendir bening yang dikeluarkannya menjadi semakin banyak.

“Ooh… aaahhh… nghhh… hhhh…” Kukecup lagi ujung kontolnya, lalu kuhisap kuat-kuat.
“Aarrghhh… Cikkiii…” Herman mengerang tertahan.

Kumasukkan kontolnya ke dalam mulutku lalu mulai mengulumnya.

“Mmhhh… mmmm…”
“Aaahh… aaahh…” Herman menggelinjang.

Tanganku mengocok bagian bawah sementara mulutku bergerak naik turun mengemut batangnya. “Aaaghhh… nghhhh… ssshhh…” tangan Herman meremas kuat rambutku, mendorong kepalaku agar kontolnya masuk lebih dalam ke mulutku.

“Mmmhh… mmmhhh…” terus kusedot-sedot benda panjang itu. Membasahinya dengan air liur sambil sesekali menggesekkan gigiku pada kulitnya yang berlendir.
“Ooohhh… yeaahhh… ssshhh…” Herman semakin kelojotan.

Kupercepat gerakan mulutku. Kurasakan denyutan di batang kontol Herman.

“Cikkii… uuughhh… nghhh… aahh… akuuhh…” tubuh Herman semakin melengkung. Kuhisap kuat-kuat kontolnya. Dan…
“Mmm… mmmnnhhh… aahh… nghhh… aaaaaaaaggghhhhh…” lenguhnya sambil menekan kepalaku kuat-kuat.

Aku merasakan cairan asin yang menerobos tenggorokanku, membuatku hampir tersedak. Kuteguk semua cairan itu masih sambil mengulum kontolnya, lalu kujilati hingga bersih.

Nafas Herman naik turun. Ia memejamkan mata sambil membuka mulut untuk menghirup nafas karena lubang hidung saja tidak cukup untuk meraih udara. Aku tahu dia sangat lega. Ingat, aku hampir dua minggu tidak menyentuhnya.

Tiba-tiba saja dia bangun. Ditariknya aku hingga duduk di pangkuannya. Dikecupnya kening, pipi, hidung dan bibirku. Ia tersenyum sambil menatapku. Tangannya mengelus-elus pinggangku. Membuat tubuhku menegang seketika. Kupeluk erat lehernya.

Ia sedikit mengangkat tubuhku. “Ngghh…” aku mendesah saat merasakan ujung kontolnya menggesek liang memekku. “Aaaahh…” kami mendesah bersama merasakan sensasinya. Rasa ngilu dan nikmat bercampur menjadi satu, benar-benar menggairahkan.

“Mmmhh…” bibir Herman turun ke bawah, mengulum putingku, memainkannya dengan lidahnya.

Pembalasan Perselingkuhan

“Aaahh… aaah… uuugh…” aku bertahan dengan ritme pelan, bagaimanapun masih ada nyawa di dalam perutku.
“Aaahh… Ciki… oooh… berhenti… aaah…” pintanya.

Aku berhenti dan memisahkan diri darinya. Ia menuntunku untuk berbaring di tempat tidur. Diusapnya peluh di dahiku. “Kau lelah?” bisiknya pelan.

Aku tersenyum.

“Sedikit,” bisikku.
“Hanya sebentar,” balasnya lalu membuka kakiku lebar-lebar. Ia menunduk,

mengecupi perutku yang sedikit buncit.

Aku tersenyum sambil mengelus kepalanya saat ia membenamkan wajahnya ke dalam perutku. Nafasnya terasa panas di kulit. Kemudian kepala Herman bergerak ke bawah.

“Aaaarrgh… Herr… ssssssshhh…” erangku saat merasakan lidahnya menggelitik

belahan memekku.

Dijilatnya memekku yang sudah becek, dihisapnya klitorisku hingga berdecit. Kemudian dimasukkannya lidahnya ke dalam lubang memekku. “Aaah… Herr… ooohhhh…”

Digelitiknya bibir memekku kemudian disedotnya kuat-kuat. “Aaarrgghhhh…” Memekku berdenyut kuat bersama cairan yang meluber keluar. Aku diam menikmati sensasinya. Orgasme pertamaku.

“Ooohh…” bibirku mulai mendesah lagi saat merasakan ujung kontolnya yang menggesek-gesek lubang memekku, meratakan cairanku yang baru saja tertumpah.
“Ngghhh…” aku mencengkeram seprei saat ia memasukkan miliknya perlahan hingga terbenam sempurna. Bibirnya mengecupi kakiku yang disampirkan ke bahunya.
“Aaahh… mmmmhh… ssssshhhhh…” Herman mulai menggerakkan pinggulnya perlahan.

Aku mengimbangi permainannya dengan menggerakan pinggulku berlawanan arah dengannya.

“Ngghh… oooohh… aaaaahhh…” ia menunduk, mengulum putingku lagi. Dan menjilatinya rakus.

Kupeluk erat lehernya dengan kaki sementara jari-jariku meremas-remas rambutnya.

“Her… oooh… uuumhh… aaah…”
”Cikii… ooohh…” Ia melepaskan putingku lalu melumat bibirku lagi sejenak.

Kemudian kuraih jemarinya lalu kumasukkan ke dalam mulutku. Kukulum seperti aku mengulum kontolnya.

”Mmhhh… nghhh… hhhh…” bunyi decakan terdengar semakin menggairahkan.

Tapi aku tahu, gerakannya lebih lambat dari biasanya. Ia sangat berhati-hati kali ini.

Aku merasakan tubuh Herman semakin menegang. Memekku terasa becek oleh cairan lendir yang terus menerus keluar, membuat kontolnya semakin mudah masuk.

“Aaah… aaah…” perutku rasanya seperti diaduk-aduk. Memekku berkedut semakin kuat. Sampai akhirnya,
“Aaaaaaaaarrrghh…” aku mengerang keras saat cairanku memancar keluar. Memekku berdenyut kuat meremas kontolnya.
”Aaarrrggghh…” Herman ikut mengerang sambil menghujamkan kontolnya dalam- dalam. Aku bisa merasakan spermanya yang hangat mengalir dalam perutku.
“Aaah…” ia mendesah lega.

Menjatuhkan tubuhnya di sampingku.

Aku diam mengatur nafas sambil menikmati sisa-sisa dari orgasme kami. Kurasakan sentuhan jari-jarinya yang merapikan rambutku. Sebuah kecupan mendarat di pipiku.

“Aku mencintaimu,” bisiknya pelan.
***
“Her…” aku memelas kepadanya.
Herman mengacak-acak rambutnya.
“Bagaimana kalau aku saja?” tanyanya. Aku menggeleng tegas.
“Ayolah… lagipula belum tentu Azka akan bersedia melakukannya…” “Dia mau melakukan apapun untukku!!”
“Tapi… tapi menampar wajahnya… Ahh, kenapa kau harus ingin menampar wajahnya?? Dia tidak akan mau, Cik, itu akan sangat memalukan untuknya!!”
“Aku pernah menyuruhnya jalan mundur di kampus dan dia melakukannya dengan senang hati, itu lebih memalukan untuknya,”
“Dia… dia bersedia?” tanya Herman tidak percaya.

Aku mengangguk lagi.

“Tidak boleh!!” tegasnya sambil melipat tangan di depan dada.
“Ayolah… aku hanya ingin menampar pipinya itu…”
“Bagaimana kalau pipiku saja?” tawarnya sambil mendekatkan wajahnya kepadaku.

Aku mengecup pipinya kilat lalu tertawa. “Aku mau Azka!!”
“Cikii…” mohonnya. “Aku tidak ingin kau menyentuh laki-laki lain… dan, dan

kenapa dia mau melakukannya untukmu?”

Aku tertegun sejenak. Astaga… Jadi dia sedang cemburu eh?! Karena Azka mau melakukan apa saja untukku?!

“Telepon Azka sekarang!! Kalau kau mencintaiku, seharusnya kau juga mau melakukan apapun untukku!!” dengusku sambil memalingkan wajah.

Herman menghela nafas pasrah. Ia meraih telepon yang ada di meja sudut sofa. Dengan tidak rela, dihubunginya Azka. Aku tahu dia pasti kesal setengah mati.

“Ini aku!!” katanya datar saat telepon tersambung.
“Dia…” ia melirikku sekilas.
“Dia baik-baik saja dan dia sedang hamil tujuh bulan lebih sekarang!! Bisa kau ke rumah kami? Apa? Australia?!”

Aku mengerutkan kening mendengar hal itu, apalagi tiba-tiba Herman tersenyum lebar. Kurebut telepon dari genggamannya. “Az, ini aku…”

“Ciki, apa kabar?”
Aku tertawa kecil mendengarnya.
“Herman bilang kau sedang hamil, apa itu benar?”
“Iya, kemana saja kau? Setelah lulus kuliah tidak mengabariku sama sekali!!”
“Maafkan aku… aku ada di Australia sekarang,”
“Untuk apa kau di sana?” tanyaku cepat.
“Itu… emm… sebenarnya aku… aku sudah pacaran dengan Yuki,”
“Yuki?” keningku berkerut.
“Yukita Hishano, artis yang dulu bersama kita di pulau Bali, yang bersama Herman_”
“Ah, Aku tahu. Jadi kau sekarang ada di Australia?”
“Begitulah… Yuki ada pemotretan disini.”
“Kapan kau akan kembali?”
“Mungkin minggu depan, memangnya kenapa?”
“Aku ingin sekali menampar wajahmu… Bisakah kau pulang sekarang?” rengekku.
“Menampar wajahku? Harus sekarang?” tanyanya bodoh.
“Iya, sekaraaang…”
“Baiklah, aku berangkat ke bandara sekarang juga, mungkin tiga jam lagi aku sampai,”

Aku tersenyum lebar.

“Kau yang terbaik!!!” Kututup teleponku sambil tertawa lebar. “Her_”

Cegluuuk… Aku menelan ludah saat menoleh ke arahnya. Dia melipat tangan di depan dada sambil menatapku tajam. “Apa katanya?” tanyanya dingin.

“Di-dia… pulang ke Indonesia sekarang juga,” jawabku pelan.

Tiba-tiba saja aku merasa sangat takut.

Herman mengangguk pelan lalu menonton teve. Well, mengacuhkanku. ***

Aku melirik Herman yang masih berkencan dengan laptopnya. Kuhela nafas sambil menatap laptopku kembali. Dia masih tidak mau bicara kepadaku. Memikirkan hal itu membuatku sedikit sesak. Kuelus perutku pelan. Ini kan bukan keinginanku juga.

Tiba-tiba saja bell berbunyi. Tanpa berkata Herman beranjak dari duduknya lalu berjalan untuk membukakan pintu.

“Ciikii!!!” pekikan nyaring itu terdengar memenuhi ruangan.
Aku meletakkan laptopku di meja telepon lalu tersenyum padanya. “Kau

benar-benar kembali,” senyumku.

“Tentu saja, aku sudah berjanji bukan?” balas Azka sambil berlutut di hadapanku.
“Az, ingat!” sela Herman sebelum masuk ke dapur.
“Apa?” tanyaku.

Azka mengerucutkan bibirnya.

“Dia bilang aku tidak boleh menyentuhmu!! Hanya kau yang boleh menyentuhku!!”

Aku tertawa dalam hati. Ah, aku semakin mencintaimu Her.

“Jadi, kau bilang ingin menampar wajahku hmm?”
Aku menggeleng pelan.
“Aku sudah tidak ingin,”
“Apa? Lalu?”
“Aku ingin menjewer telingamu saja,” senyumku.
“Ayo, tidur di sini!!” kutepuk-tepuk pahaku yang sekarang sempit karena terdesak perut besarku.

Dengan senang hati Azka tidur di pangkuanku. Kubelai lembut rambutnya sebelum kujewer pelan telinganya. Dalam hati aku juga sedikit menyesal, kenapa bukan Herman saja.

“Cik, apa kau bahagia dengannya?” tanyanya pelan.
“Tentu saja. Aku sangat bahagia bersamanya,”
“Kalau kau bahagia, aku juga akan bahagia,” Azka tersenyum kepadaku.
“Jadi… bagaimana dengan pacar Jepangmu huh?”
“Kau ingin aku bercerita?”
“Tentu saja,”

Aku terus menjewer-jewer pelan telinga Azka sambil mendengarkan ceritanya. Sampai tiba-tiba…

PRAAANG…!!!

“HEI, APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!”

Aku tersentak kaget mendengar teriakan itu. Azka langsung bangun dari tidurnya. Oh tuhan… Aku melihat kilat kemarahan di mata suamiku.

“Her, aku hanya_”
“Tidak perlu dijelaskan, lanjutkan saja! Aku pergi dulu!!” potongnya dingin lalu
“Tunggu, Her,” aku beranjak dari dudukku akan menghampirinya. Tetapi kakiku

terpeleset genangan susu dari gelas jatuh yang dibawa Herman tadi. “Aaaakhh…” “CIKII…!!!” Herman berteriak kaget.

Aku meringis memegangi perutku yang terasa sakit karena benturan tubuhku yang jatuh ke lantai. Kugigit bibirku. Rasanya sangat sakit. Suara mereka mulai tidak terdengar, hal terakhir yang kulihat sebelum semuanya menjadi gelap adalah darah mengalir disela kedua kakiku.

Aku membuka mata perlahan. Semuanya terlihat putih. Bau obat yang tajam menusuk hidungku. Kepalaku terasa berat. “Uugh…” aku melenguh pelan.

“Cik…” suara merdu itu terdengar begitu cemas
“kau sudah sadar?”

Aku mengerjapkan mata sambil menoleh ke samping dengan lemas. wajah tampan itu terlihat begitu khawatir. Matanya bengkak dan menghitam. Kuulurkan tanganku pelan, menyentuh bawah matanya. “Kau menangis?” lirihku.

Ia mengambil tanganku lalu menciuminya. “Maaf…” bisiknya “Maafkan aku…” air matanya tergenang lagi.

“Tidak apa,” bisikku
“Bagaimana bayi kita?” tanyaku cemas.

Seulas senyum terlihat di bibirnya.

“Perempuan, dia sangat cantik sepertimu,”

Aku tersenyum lega. Terima kasih karena tuhan tidak mengambilnya lebih dulu.

“Dimana dia?” tanyaku.
“Dia prematur, jadi masih harus di inkubator. Maafkan aku sudah menyakitimu… aku hampir saja membunuh kalian,”
“Kau bodoh!!” makiku sambil tersenyum.
“Tapi syukurlah semuanya baik-baik saja…”
“Kau koma selama 5 hari, Cik. Aku tidak bisa membayangkan kalau kau- kalau kau…”
“Sst… semuanya sudah lewat.”
“Aku mencintaimu, Cik… sangat mencintaimu.”
“Aku tahu…” senyumku.
“Aku juga mencintaimu… Jadi, siapa namanya?”
“Belum tahu, aku masih menunggumu siuman.” Dia beranjak, mengecup keningku,
“Terima kasih sudah menjadi istriku. Biar kupanggilkan dokter. Papa dan Mama ada di luar menunggumu,”

Aku mengangguk pelan. semoga kebahagiaan ini terus dapat bertahan, menjadikan keluargaku sempurna. Aku mencintainya, Tuhan. Aku sangat mencintai suamiku. Terima kasih sudah memberiku kesempatan membuat skenario kehidupan ini bersamanya. End
cerita sex,cerita hot, certa sex,cerita seks,cerita sex hot,cerita hot sex,cerita birahi,cerita seks hot,ceritasex,cerita dewasa,ngentot,binal,cerita nafsu birahi,crta sex,crita hot,cerita sex,hot sex,cerita sex sepupu,cerita sex dewasa,cerita ngentot paksa bude kampung,cerita sex yang hot,kontol,cerits hot,cerita sek,cerita seks menginap,cerita hoot,cerita mesum,cerita hot 

Share :

Facebook Twitter Google+
0 Komentar untuk "Cerita Seks Pribadi Setelah Bayi Kita Lahir Lalu Kita ML Lagi"

Back To Top -->